asia-weatherthailand-1764132421010_169
55 Tewas, Banjir Dahsyat Rendam Hat Yai, Kamar Mayat hingga Meluber

Korban Meninggal & Krisis Kapasitas

Banjir besar yang melanda wilayah selatan Thailand — terutama di Kota Hat Yai dan Provinsi Songkhla — menyebabkan setidaknya 55 orang tewas. Jumlah korban terus bertambah seiring tim penyelamat mengakses area terdampak dan evakuasi warga berlangsung.

Kenaikan tajam korban jiwa ini juga mendorong krisis serius: fasilitas kamar jenazah di rumah sakit utama di Songkhla dinyatakan telah melampaui kapasitas normal. Petugas medis setempat menyebut bahwa lokasi penyimpanan jenazah tidak lagi mampu menampung jumlah korban.

Sebagai respons darurat, otoritas setempat menurunkan tiga unit truk berpendingin untuk dijadikan ruang penyimpanan sementara bagi jenazah korban. Hal ini menunjukkan betapa parahnya dampak banjir — tidak hanya dari segi korban, tetapi juga dari sisi penanganan jenazah dan operasional layanan kesehatan.


Dampak Banjir: Wilayah Terdampak & Evakuasi

Kota Hat Yai, pusat perdagangan dan transportasi di selatan, menjadi salah satu wilayah paling parah terdampak. Banyak kawasan permukiman, jalan, dan fasilitas publik terendam air banjir yang mencapai tinggi berbahaya. Warga terpaksa mengungsi ke tempat aman atau lokasi darurat, karena rumah dan lingkungan mereka tergenang dengan cepat.

Evakuasi berlangsung massif — otoritas serta tim penyelamat dari militer, SAR, dan relawan dikerahkan. Proses penyelamatan melibatkan perahu, helikopter, dan kendaraan darurat untuk mencapai lokasi yang terisolasi akibat air dan lumpur. Bantuan logistik seperti makanan, air bersih, dan perlengkapan darurat mulai disalurkan kepada warga yang kehilangan tempat tinggal atau terjebak banjir.

Meski hujan mulai mereda di beberapa wilayah, ancaman banjir susulan dan longsor tetap diwaspadai, karena permukaan tanah jenuh dan sungai–sungai di daerah tersebut mengalami peningkatan debit air secara drastis.


Tantangan Sistemik & Krisis Manajemen Darurat

Situasi di selatan Thailand mengungkap persoalan besar terkait kesiapan tanggap bencana: infrastruktur darurat seperti kamar jenazah, rumah sakit, dan jalur evakuasi kurang memadai untuk menghadapi bencana besar semacam ini. Ketika korban meningkat drastis dalam waktu singkat — sistem kesehatan dan fasilitas publik kewalahan untuk menampung dampak secara masif.

Pemerintah lokal dan nasional dipaksa mengambil langkah darurat: menyediakan fasilitas penyimpanan jenazah alternatif, mengerahkan militer dan SAR untuk evakuasi, dan mengaktifkan pusat krisis untuk koordinasi bantuan. Namun situasi tetap genting — banyak warga yang kehilangan rumah, dan akses ke bantuan pun terhambat di beberapa area karena terputusnya jalur transportasi.

Banjir ini juga mengingatkan pada pentingnya mitigasi jangka panjang: sistem drainase, infrastruktur tanggul, serta peringatan dini cuaca ekstrem harus diperkuat — terutama mengingat pola cuaca yang makin sulit diprediksi akibat perubahan iklim global.


Seruan Kemanusiaan & Imbauan Waspada

Otoritas menyerukan warga di daerah rawan banjir untuk tetap waspada, terutama jika tinggal di dataran rendah, dekat sungai, atau kawasan rawan genangan. Masyarakat diminta mengikuti arahan evakuasi, mempersiapkan dokumen penting dan perlengkapan darurat, serta membantu proses penyelamatan dan distribusi bantuan jika memungkinkan.

Di sisi lain, lembaga kemanusiaan dan komunitas internasional diajak untuk turut mendukung korban — baik melalui donasi, penyediaan bantuan medis, maupun advokasi untuk penanganan pasca-bencana. Karena krisis ini bukan hanya soal korban jiwa, tapi juga tentang hilangnya tempat tinggal, akses kesehatan, dan trauma bagi ribuan warga yang terdampak.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/