Pemandangan_udara_dari_pesisir_Iran_dan_pulau_Qeshm_di_Selat_Hor-2026_03_01-10_49_32_149cbb23557440e082be3cb92d0be1a3_960x640_thumb
Gawat! Harga Minyak Dunia Melejit 8% Gegara Serangan AS-Israel ke Iran, Selat Hormuz Terancam Lumpuh Total

Jakarta – Harga minyak dunia mengalami lonjakan tajam hingga sekitar 8 persen pada perdagangan awal Minggu malam waktu setempat. Kenaikan ini dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28 Februari 2026). Menurut data CME Group dan FactSet yang dikutip berbagai media internasional, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak ke level USD72 per barel, naik dari USD67 pada Jumat sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global naik ke kisaran USD79 per barel, dari sebelumnya sekitar USD72,87. Beberapa laporan bahkan mencatat Brent sempat menyentuh USD82,37, level tertinggi sejak Januari 2025. Lonjakan harga ini terjadi seiring kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan minyak global. Serangan AS-Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu aksi balasan dari Iran. Di antaranya adalah serangan terhadap dua hingga tiga kapal tanker di dekat Selat Hormuz, serta ancaman penutupan jalur vital tersebut oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Selat Hormuz menjadi pusat perhatian dunia. Jalur sempit di mulut Teluk Persia ini mengangkut sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari, atau hampir 20 persen pasokan minyak global. Negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran sendiri mengandalkan selat ini untuk ekspor energi. Rystad Energy menyebut Selat Hormuz sebagai “chokepoint energi paling krusial di dunia”. Sebelumnya, Iran sudah menutup sebagian jalur ini pada pertengahan Februari untuk latihan militer. Kini, dengan serangan langsung ke kapal tanker, risiko gangguan distribusi semakin nyata.

Jorge León, Senior Vice President Rystad Energy, mengatakan, “Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Pasar kini lebih khawatir apakah barel minyak bisa benar-benar dikirim, bukan sekadar kapasitas produksi di atas kertas.” Ia menambahkan, jika arus pengiriman melalui Teluk terganggu, peningkatan produksi di negara lain tidak akan langsung meredakan tekanan harga karena logistik ekspor menjadi faktor penentu. Di Indonesia, dampaknya bisa langsung terasa. Sebagai negara pengimpor bersih minyak terbesar di Asia Tenggara, kenaikan harga minyak dunia berpotensi mendorong inflasi, melemahkan rupiah, serta membebani subsidi BBM. Analis ekonomi seperti Mohammad Faisal dari CORE Indonesia memprediksi, jika konflik berlanjut dan Selat Hormuz benar-benar lumpuh, harga minyak bisa menembus USD100 per barel—rekor tertinggi sejak awal perang Rusia-Ukraina.

Pasar global pun bereaksi. Saham-saham energi naik, sementara bursa saham dunia cenderung melemah karena kekhawatiran resesi akibat energi mahal. Para ahli memperingatkan, penutupan berkepanjangan Selat Hormuz bisa memicu krisis ekonomi dunia. Hingga saat ini, ketegangan masih berlanjut dengan serangan balasan dari kedua pihak. Pasar minyak diperkirakan akan terus volatile dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah dan pelaku bisnis diimbau memantau perkembangan ini secara ketat.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/