JEMABTAN-HANCUR-DI-SUMUT
72 Nyawa Melayang, Banjir & Longsor Seret Aceh, Sumut, dan Sumbar dalam Musibah Hebat

Jakarta – Bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa hari terakhir menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa total korban meninggal dunia akibat bencana tersebut telah mencapai 72 orang. Hingga kini, petugas gabungan masih terus mengintensifkan operasi pencarian dan evakuasi warga yang terdampak.

Dari keseluruhan korban, wilayah Sumatera Utara menjadi daerah dengan jumlah korban terbanyak. Banjir dan longsor yang melanda sejumlah kabupaten di provinsi tersebut dilaporkan merusak pemukiman warga, fasilitas publik, hingga menyulitkan proses evakuasi. Banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya secara mendadak akibat aliran air deras dan material longsor yang datang tanpa peringatan.

Di Aceh, bencana hidrometeorologi ini juga menimbulkan kerusakan cukup parah. Enam orang dinyatakan meninggal dunia, sementara belasan warga lain masih belum ditemukan. Petugas SAR dan relawan terus melakukan penyisiran di area yang sulit dijangkau karena akses jalan tertutup material lumpur dan pepohonan. Upaya pemetaan area terdampak menjadi salah satu fokus dalam mempercepat proses pencarian korban hilang.

Sementara itu, Sumatera Barat juga menghadapi situasi darurat. Sebanyak sembilan warga dilaporkan meninggal dunia akibat banjir dan longsor yang menerjang beberapa kawasan. Hujan lebat dalam durasi panjang menjadi pemicu utama meningkatnya debit air sungai hingga menyebabkan aliran deras menggenangi pemukiman serta menimbulkan longsoran di kawasan lereng bukit.

Kerusakan fasilitas umum di tiga provinsi ini turut menjadi perhatian pemerintah. Sejumlah jembatan dan akses penghubung antarwilayah masih dalam tahap pembersihan serta perbaikan sementara. Selain itu, ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi aman, memanfaatkan fasilitas yang disediakan pemerintah daerah, TNI, dan Polri. Bantuan logistik berupa makanan, selimut, hingga layanan kesehatan darurat mulai disalurkan ke titik-titik pengungsian.

BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di dataran rendah dan daerah sekitar tebing atau aliran sungai, agar tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. Perubahan cuaca ekstrem diperkirakan masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan, sehingga risiko banjir maupun longsor belum sepenuhnya berakhir.

Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah berkomitmen memperkuat sistem peringatan dini serta kesiapsiagaan warga dalam menghadapi cuaca ekstrem. Penyelidikan awal menyebutkan bahwa intensitas hujan yang tinggi dalam waktu lama memberikan tekanan besar pada struktur tanah serta menyebabkan sungai-sungai di kawasan terdampak meluap.

Hingga kini, proses evakuasi dan penanganan darurat masih berjalan. Tim penanggulangan bencana terus berupaya memulihkan kondisi dan memastikan seluruh kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi. Pemerintah juga mengajak masyarakat luas untuk ikut mendukung percepatan penanganan melalui aksi kemanusiaan dan penyebaran informasi yang akurat demi membantu wilayah yang sedang berada dalam masa darurat.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/