Tel Aviv / Tepi Barat — Otoritas di wilayah pendudukan Tepi Barat, Israel, pada akhir November 2025 memerintahkan pemusnahan ratusan ekor buaya Nil di peternakan buaya Petza’el crocodile farm, Lembah Yordan. Alasan resmi: mereka khawatir reptil-reptil tersebut dapat dilepaskan secara sengaja sebagai “senjata biologis” dalam potensi serangan teroris.
Dari Peternakan Wisata ke Lokasi Pemusnahan Massal
Petza’él dulunya adalah peternakan buaya yang dibuka pada 1990-an sebagai objek wisata. Namun sejak konflik dan kekerasan di wilayah itu, peternakan ditutup dan satwanya ditinggalkan. Setelah tahun 2012, buaya Nil dikategorikan sebagai satwa dilindungi, dan perdagangan atau pemeliharaannya untuk komersial kemudian dilarang.
Dengan waktu, kondisi kandang memburuk — pagar rusak, perawatan nyaris tak ada, makanan jarang diberikan, sehingga buaya terjerumus ke perilaku kanibalisme.
Otoritas menyebut bahwa ada beberapa kali buaya kabur dari kandang, masuk ke wilayah pemukiman atau alam liar — menciptakan risiko bagi penduduk sekitar.
Keputusan Darurat: “Pencegahan Teror dan Keselamatan Publik”
Dalam keputusan kontroversial tersebut, badan pengelola sipil di wilayah pendudukan dan otoritas taman & alam menyatakan bahwa situasi sudah melewati batas aman. Mereka mengkhawatirkan jika pagar kandang dijebol — misalnya oleh pihak yang bermusuhan — buaya bisa dilepas dan membahayakan komunitas. Sebagai langkah paling tegas, dilakukan penyembelihan massal.
Mereka juga berdalih bahwa kondisi buaya — kelaparan, siksaan, kanibalisme — sudah melanggar prinsip kesejahteraan hewan, sehingga pemusnahan dilakukan “atas nama kemanusiaan dan keamanan”.
Menurut data dari beberapa laporan, setidaknya 200 — 262 ekor buaya telah dibunuh. Dalam satu versi, disebut bahwa populasi buaya awal di peternakan pernah mencapai ratusan bahkan ribuan, namun menyusut drastis karena kelaparan dan kanibalisme.
Kritik Keras dari Kelompok Lingkungan & HAM
Keputusan ini mendapat kecaman luas dari organisasi pelindung satwa dan lingkungan internasional maupun lokal. Mereka menyebut pembantaian ini kejam, prematur — dan menuduh otoritas Israel melanggar perlindungan satwa yang dijamin oleh regulasi internasional.
Beberapa pihak mempertanyakan kenapa tidak ditawarkan alternatif seperti relokasi, rehabilitasi, atau penempatan ke kebun binatang atau sanctuary. Mereka mengatakan banyak buaya yang sebenarnya tampak sehat — sehingga pemusnahan massal dianggap tidak proporsional.
Organisasi-organisasi hak hewan menyerukan penyelidikan lebih lanjut dan transparansi penuh: menyayangkan bahwa otoritas menolak membuka investigasi atas tindakan ini.
Implikasi & Kontroversi: Antara Keamanan dan Etika
Kasus ini menyentuh dilema besar: keamanan publik versus hak satwa untuk hidup dan hidup layak. Otoritas Israel mengklaim bertindak demi keselamatan warga, namun kritik menyebutnya sebagai kekerasan terhadap makhluk hidup dengan dalih “keamanan”.
Mengingat bahwa buaya Nil adalah spesies yang dilindungi sejak 2013 di Israel, tindakan ini memunculkan pertanyaan: apakah otoritas seharusnya memilih opsi yang lebih manusiawi daripada pembantaian massal?
Penutup: Warisan Kelam di Petza’el
Kasus di Petza’el menjadi peringatan keras bagaimana perlakuan terhadap satwa terabaikan dapat berakhir tragis— apalagi dalam situasi yang dianggap “darurat”. Sementara pihak berwenang menegaskan keputusan diambil demi kemanusiaan dan keamanan, kelompok lingkungan dan hak asasi hewan menilai antisipasi dan solusi lain seharusnya tersedia.
Pembantaian buaya di Petza’el menegaskan bahwa konflik, konflik legislatif, dan ketidakpedulian terhadap kesejahteraan hewan dapat berujung pada tindakan ekstrem — yang setidaknya sindiran bagi kesadaran kita tentang tanggung jawab manusia terhadap makhluk lain.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























