69a7ce6033ece
Banjir Lahar Gunung Merapi Terjang Magelang, Tiga Orang Tewas dan Status Darurat Ditetapkan

Magelang – Bencana banjir lahar dingin dari Gunung Merapi menerjang wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, setelah hujan deras mengguyur kawasan lereng gunung tersebut. Peristiwa ini menelan korban jiwa dan memaksa pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat bencana guna mempercepat penanganan di lapangan.

Banjir lahar terjadi pada Selasa (3/3/2026) sekitar pukul 15.30 WIB di aliran Sungai Senowo, yang berhulu langsung dari Gunung Merapi. Hujan dengan intensitas tinggi di kawasan puncak gunung menyebabkan material vulkanik seperti pasir, batu, dan lumpur terbawa arus air hingga meluap ke hilir sungai.

Arus lahar yang sangat deras menerjang kawasan penambangan pasir di sekitar sungai dan menyeret sejumlah pekerja yang saat itu berada di lokasi. Dalam peristiwa tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara beberapa korban lainnya sempat dinyatakan hilang sebelum akhirnya ditemukan oleh tim penyelamat.

Korban meninggal diketahui merupakan pekerja yang sedang beraktivitas di area tambang pasir di sekitar aliran sungai. Material vulkanik yang turun secara tiba-tiba membuat mereka tidak sempat menyelamatkan diri ketika arus lahar melanda kawasan tersebut.

Selain korban jiwa, banjir lahar juga menimbulkan kerusakan cukup besar di lokasi kejadian. Sejumlah kendaraan operasional penambangan, termasuk truk pengangkut pasir, dilaporkan terseret arus atau tertimbun material vulkanik. Bahkan beberapa alat berat juga ikut terkubur oleh pasir dan lumpur yang terbawa dari hulu Merapi.

Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, sedikitnya belasan truk tertimbun material lahar dan beberapa kendaraan lainnya hanyut terbawa arus sungai. Kondisi ini membuat aktivitas penambangan pasir di kawasan tersebut terhenti sementara.

Untuk mempercepat penanganan dampak bencana, pemerintah Kabupaten Magelang kemudian menetapkan status tanggap darurat bencana banjir lahar Merapi. Penetapan status tersebut dilakukan setelah pemerintah daerah menggelar rapat koordinasi bersama BPBD, Basarnas, TNI, Polri, serta berbagai instansi terkait.

Tim SAR gabungan segera diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan proses pencarian korban serta evakuasi material yang menutup aliran sungai. Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas, BPBD, relawan, serta masyarakat setempat.

Selain melakukan pencarian korban, petugas juga melakukan pemantauan di sejumlah sungai yang berhulu di Gunung Merapi guna mengantisipasi kemungkinan banjir lahar susulan. Kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan deras membuat masyarakat di kawasan lereng Merapi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.

Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di sekitar aliran sungai dan area penambangan pasir, agar sementara waktu menghindari wilayah tersebut saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan puncak Merapi.

Para ahli kebencanaan menjelaskan bahwa banjir lahar dingin merupakan fenomena yang kerap terjadi di kawasan gunung api aktif seperti Merapi. Ketika hujan deras mengguyur puncak gunung, material sisa erupsi seperti pasir, kerikil, dan batu dapat terbawa air hujan dan mengalir dengan cepat melalui sungai-sungai di sekitarnya.

Peristiwa banjir lahar kali ini bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir di kawasan Magelang. Selain memakan korban jiwa, bencana tersebut juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, terutama sektor penambangan pasir yang banyak dilakukan di sekitar aliran sungai Merapi.

Pemerintah daerah bersama tim penanggulangan bencana masih terus melakukan pemantauan situasi di wilayah terdampak untuk memastikan keselamatan masyarakat serta mencegah dampak yang lebih luas dari bencana tersebut.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/