Irene-Sokoy-ibu-hamil-dari-Kampung-Hobong
Diduga Ditolak Empat RS, Ibu Hamil di Jayapura Meninggal Bersama Bayinya Setelah Berjuang 2 Hari

Jayapura – Seorang ibu muda bernama Irene Sokoy (usia 28 tahun) dan bayi yang sedang hamil meninggal dunia setelah diduga ditolak oleh empat rumah sakit di Kabupaten dan Kota Jayapura, Provinsi Papua. Insiden ini memicu sorotan tajam terhadap sistem layanan kesehatan di wilayah tersebut.

Kronologi berawal saat Irene merasakan kontraksi pada Minggu siang (16/11/2025) di Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. Keluarga segera membawa Irene ke RSUD Yowari, Kabupaten Jayapura. Namun, kondisi Irene dilaporkan semakin memburuk, dengan bayi dalam kandungan yang belum juga lahir dan mengalami sesak napas.

Di RSUD Yowari, petugas medis dikabarkan menyarankan rujukan ke beberapa rumah sakit lain, termasuk RS Dian Harapan dan RSUD Abepura. Namun keluarga menyatakan bahwa proses rujukan berjalan lambat dan pelayanan medis tertunda. Keesokan harinya, Irene dibawa ke RS Bhayangkara Kota Jayapura dan kemudian ke RSUD Dok II. Dalam perjalanan menuju RSUD Dok II, kondisi Irene semakin kritis hingga akhirnya kedua nyawa — Irene dan bayinya — tidak tertolong.

Pihak keluarga menuding bahwa empat rumah sakit ‘menolak’ pelayanan terhadap Irene. Beberapa alasan yang dikemukakan termasuk ketiadaan dokter spesialis, kamar penuh, hingga persyaratan uang muka yang tidak terpenuhi. Kasus ini menuai kecaman dari pemerintah daerah dan lembaga sosial.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut bahwa penolakan pasien gawat darurat atau ibu hamil merupakan pelanggaran Hak Kesehatan dan bisa menjadi catatan serius bagi pemerintah. Mereka mendesak investigasi dan sanksi tegas terhadap rumah sakit yang terbukti menolak pelayanan.

Pemerintah Provinsi Papua melalui Matius D. Fakhiri, Gubernur Papua, menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban dan mengakui bahwa pelayanan kesehatan di Papua masih menghadapi tantangan besar. Ia berjanji evaluasi menyeluruh terhadap sistem rujukan, ketersediaan tenaga medis, dan fasilitas rumah sakit.

Kasus ini menggarisbawahi pentingnya akses layanan kesehatan yang cepat dan tepat, terutama untuk ibu hamil. Dalam situasi kegawatdaruratan, penolakan atau keterlambatan pelayanan dapat berujung pada tragedi. Para pengamat menyebut bahwa ke depan, sistem rujukan harus diperkuat, standar pelayanan rumah sakit harus diawasi ketat, serta diperlukan edukasi bagi warga agar lebih siap menghadapi kondisi medis kritis.

Bagi keluarga Irene, kehilangan ini sangat memilukan dan menjadi pengingat bahwa hak atas kesehatan bukan sekadar slogan — tetapi hidup dan mati bagi banyak orang. Masyarakat kini menuntut agar tragedi serupa tidak terulang dan bahwa setiap rumah sakit benar-benar menjalankan fungsi kemanusiaan yang mendasar.

Baca juga berita lainnya disini: Suara Kabar Media – Suara Kabar Media
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/