LONDON – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, terus memperkuat posisi Indonesia di panggung ekonomi global. Dalam kunjungan resminya ke Inggris pada Rabu (21/1/2026), Presiden Prabowo bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Inggris untuk membahas berbagai kerja sama strategis. Salah satu poin yang mencuri perhatian adalah rencana besar Indonesia untuk membangun 1.500 kapal ikan guna memodernisasi armada perikanan nasional.
Langkah ini merupakan bagian dari visi besar pemerintah dalam mencapai kedaulatan pangan dan mengoptimalkan potensi kekayaan laut Indonesia melalui hilirisasi industri maritim.
Modernisasi Armada untuk Kesejahteraan Nelayan
Rencana pembangunan 1.500 kapal ikan ini bukan sekadar penambahan jumlah, melainkan upaya transformasi teknologi bagi para nelayan. Presiden menekankan bahwa Indonesia membutuhkan armada yang tangguh dan modern untuk mengelola zona ekonomi eksklusif (ZEE) secara maksimal.

Beberapa target utama dari proyek pembangunan kapal ini meliputi:
-
Peningkatan Jangkauan Tangkap: Memungkinkan nelayan Indonesia melaut lebih jauh dengan keamanan dan fasilitas penyimpanan (cold storage) yang lebih baik.
-
Kedaulatan Pangan: Memastikan pasokan protein laut untuk kebutuhan domestik tetap stabil dan berkualitas tinggi.
-
Hilirisasi Maritim: Mendorong hasil tangkapan ikan diproses langsung di dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah ekspor.
Peluang Kerja Sama Industri dan Investasi
Pertemuan di London ini juga membuka peluang kerja sama antara industri galangan kapal Indonesia dengan teknologi maritim canggih milik Inggris. Pemerintah berharap adanya transfer teknologi agar pembangunan 1.500 kapal tersebut dapat melibatkan industri manufaktur lokal secara masif.
“Indonesia memiliki potensi laut yang luar biasa. Dengan 1.500 kapal ikan baru yang modern, kita ingin nelayan kita menjadi tuan rumah di lautnya sendiri dan berkontribusi nyata bagi ekonomi nasional,” ungkap perwakilan pemerintah dalam keterangannya di Jakarta.
Dampak Ekonomi bagi Galangan Kapal Lokal
Jika rencana ini terealisasi, industri galangan kapal di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di sekitar Bekasi dan daerah pesisir lainnya, diprediksi akan mendapatkan dampak positif yang signifikan. Proyek skala besar ini akan menyerap ribuan tenaga kerja terampil dan menghidupkan ekosistem industri pendukung seperti mesin kapal, navigasi, hingga perlengkapan melaut.
Inisiatif ini disambut baik oleh para pelaku industri sebagai angin segar bagi percepatan pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2026. Transformasi dari alat tangkap tradisional ke armada modern diharapkan dapat memangkas biaya operasional nelayan dan meningkatkan hasil produksi secara berkelanjutan.

























