WhatsApp Image 2026-03-03 at 12.05.00
Gejolak Timur Tengah Meledak: Serangan AS-Israel ke Iran Tutup Selat Hormuz, Emas & Minyak Melonjak Gila-gilaan!

Jakarta – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu gejolak pasar global. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah memasuki fase baru yang ditolak. Iran membalas dengan diumumkannya penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut hingga 20% pasokan minyak dunia. Ancaman ini langsung memicu peluncuran harga komoditas energi dan logam mulia.Menurut laporan Al Jazeera dan Reuters, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan Selat Hormuz “tertutup” dan siap membakar kapal mana pun yang mencoba melintas. Serangan balasan Iran juga menargetkan infrastruktur energi di Teluk serta kedutaan AS di Riyadh. Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer bisa berlangsung hingga beberapa minggu, sementara Israel dan AS menegaskan target utama adalah program nuklir serta kepemimpinan Iran, termasuk membunuh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.Dampak langsung terlihat di pasar keuangan. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak tajam, mendekati level $72 per barel dan berpotensi menuju $74,4.

Analis pasar menyoroti risiko pasokan global yang terganggu, meskipun OPEC+ berusaha membatasi kenaikan dengan meningkatkan produksi. Minyak mentah Brent bahkan sempat naik lebih dari 9% dalam satu sesi.Sementara itu, emas (XAUUSD) semakin bersinar sebagai aset safe haven. Harga emas saat ini berada di kisaran $5.340 per ounce dengan momentum bullish kuat di timeframe H1. Analis teknikal memperkirakan potensi kenaikan lebih lanjut $5.441, didukung aliran dana aman akibat paparan geopolitik dan kekhawatiran inflasi baru dari pemutaran minyak. Dukungan terdekat berada di $5.286.Dolar AS juga menguat signifikan. Pair USD/JPY menunjukkan bias bullish di H4 dengan target 158,7, sementara EUR/USD berada di bawah tekanan bearish menuju 1,1630. Indeks Dow Jones sempat tertekan di awal sesi karena kekhawatiran konflik, namun rebound berkat saham sektor AI, energi, dan perlindungan. Secara keseluruhan, pasar saham masih berfluktuasi dengan bias bearish di H4.Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pun bergeser ke September karena risiko inflasi yang meningkat. Analis dari IG dan Reuters mengingatkan bahwa semakin lama konflik berlangsung, semakin besar risiko bagi pasar energi dan inflasi global.Pasar kini menantikan perkembangan lebih lanjut, termasuk pernyataan pejabat The Fed dan langkah-langkah inovatif untuk meredakan ketegangan. Bagi investor, situasi ini menjadi pengingat betapa cepatnya sentimen geopolitik dapat mengubah arah pasar. Emas dan minyak menjadi primadona, sementara aset berisiko seperti saham dan mata uang emerging market ditekan.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/