WhatsApp Image 2025-11-12 at 17.06.08
Gus Elham Ngaku Khilaf dan Minta Maaf Usai Viral Cium Sejumlah Balita Perempuan

Nama Muhammad Elham Yahya Al‑Maliki atau akrab disebut Gus Elham mendadak menjadi sorotan publik setelah sebuah video beredar luas di media sosial yang memperlihatkan dirinya sedang mencium anak-anak perempuan dalam sebuah acara pengajian. Video tersebut memicu gelombang kecaman dari masyarakat, tokoh agama hingga lembaga negara.

Viral Video dan Reaksi Publik

Dalam rekaman yang viral, Gus Elham tampak berada di atas panggung bersama sejumlah anak kecil, kemudian melakukan pelukan dan kecupan ke pipi anak-anak perempuan tersebut. Akibatnya, banyak pihak menilai tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh seorang pendakwah di depan umum — apalagi melibatkan anak-anak. Menanggapi itu, Kementerian Agama Republik Indonesia menyatakan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan moralitas dan menjadi “musuh bersama”. “Semua tindakan-tindakan yang bertentangan moralitas itu … harus menjadi musuh bersama,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar. Tak hanya itu, lembaga keagamaan seperti Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga angkat suara mengecam tindakan Gus Elham. Mereka menilai, perilaku tersebut menodai nilai-nilai dakwah yang seharusnya menjadi teladan.

Permintaan Maaf dan Pengakuan Kesalahan

Merespons kegaduhan yang terjadi, Gus Elham akhirnya mengunggah video permintaan maaf melalui akun media sosialnya. Dia mengakui bahwa tindakannya merupakan sebuah “kekhilafan” dan menyampaikan bahwa anak-anak dalam video tersebut berada di bawah pengawasan orang tuanya saat acara berlangsung. “Dengan penuh kerendahan hati, saya Muhammad Elham Yahya Al‐Maliki memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas beredarnya video yang menimbulkan kegaduhan. Saya mengakui bahwa hal tersebut merupakan kekhilafan dan kesalahan saya pribadi,” ucapnya dalam pernyataan tersebut. Lebih lanjut, Gus Elham menyampaikan bahwa peristiwa ini menjadi pelajaran besar bagi dirinya. Ia berkomitmen untuk memperbaiki cara berdakwah dan lebih berhati-hati dalam berinteraksi di ruang publik, khususnya yang melibatkan anak-anak.

Kementerian Agama pun mengingatkan bahwa lembaga keagamaan harus menjadi ruang yang aman untuk anak-anak, bebas dari segala bentuk penyimpangan. Mereka juga telah menegaskan kebijakan pengasuhan dan interaksi dengan anak-anak di pesantren atau madrasah melalui pedoman ramah anak. Sementara itu, publik mengharapkan agar Gus Elham tidak hanya berhenti pada permintaan maaf semata, tetapi juga menunjukkan tindakan nyata berupa introspeksi, penguatan internal lembaga serta penerapan standar etika yang jelas. Hal ini penting agar kepercayaan masyarakat terhadap lembaga dakwah dan keagamaan tidak terus tercoreng.