14637-kanjeng-gusti-pangeran-haryo-kgph-purbaya
Gusti Purbaya Dinobatkan Raya Keraton Surakarta: Sah Jadi Susuhunan Pakubuwono XIV dalam Prosesi Sakral

Surakarta, 15 November 2025 – Prosesi adat yang telah lama dinanti akhirnya terlaksana hari ini di Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan penobatan resmi ‎Gusti Purbaya sebagai Raja dengan gelar ‎Pakubuwono XIV melalui upacara sakral Jumenengan Dalem Nata Binayangkare.

Upacara penobatan yang berlangsung di lingkungan keraton pada Sabtu (15/11) tersebut dihadiri oleh tokoh adat, kerabat keraton, dan sejumlah tamu undangan penting. Langkah ini menandai babak baru dalam sejarah Kesultanan dan Kasunanan Surakarta sebagai pusat budaya Jawa.

Gusti Purbaya, yang sebelumnya sudah diangkat sebagai putra mahkota, menyatakan bahwa kepemimpinannya akan berdasar pada syariat Islam, adat Jawa, sekaligus mendukung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam sambutannya, beliau menyampaikan komitmen untuk menjaga warisan budaya, memperkuat fungsi keraton sebagai pusat kebudayaan, serta mendukung masyarakat di wilayah Surakarta dan sekitarnya.


Konflik Suksesi yang Mencuat

Penobatan ini tidak berlangsung sepenuhnya tanpa kontroversi. Sebelumnya, muncul dua klaim penerus takhta oleh anggota keraton yang berbeda, yakni pihak ‎KGPH Mangkubumi (Hangabehi) dan Gusti Purbaya sendiri. Konflik tersebut mencuat di media dan menjadi sorotan publik yang mempertanyakan prosedur adat serta keabsahan suksesi keraton.

Meski demikian, kedudukan Gusti Purbaya sebagai Pakubuwono XIV secara adat formal telah diresmikan. Upacara jumenengan, kirab menggunakan kereta kencana khas keraton, dan prosesi sakral lainnya berlangsung khidmat dan mendapat perhatian dari masyarakat luas.


Makna Budaya dan Simbolisme

Penobatan Raja baru di Keraton Surakarta bukan semata pergantian figur, melainkan simbol kesinambungan budaya Jawa, adat-istiadat serta peran keraton dalam menjaga identitas lokal. Dengan pengangkatan Gusti Purbaya sebagai Pakubuwono XIV, harapan tumbuh agar keraton tetap relevan di era modern, menjadi penggerak pelestarian seni, budaya, dan nilai-nilai masyarakat Jawa.

Kereta kencana, prosesi kirab, upacara adat, semuanya memperkuat simbol bahwa keraton bukan hanya bangunan fisik, melainkan pusat spiritual dan budaya yang mengakar kuat di masyarakat.


Harapan Masyarakat dan Tantangan ke Depan

Masyarakat Surakarta dan penggiat budaya mengapresiasi pengangkatan ini sebagai momentum revitalisasi peran keraton dalam kehidupan sosial-kultural. Namun, tantangan modernisasi, persaingan budaya global, serta dinamika internal keraton tetap menjadi ujian bagi Pakubuwono XIV untuk mampu menjaga relevansi institusi keraton.

Gusti Purbaya diharapkan mampu membawa keraton membuka diri terhadap inovasi, menjembatani tradisi dengan perkembangan zaman, tanpa mengabaikan akar budaya yang telah ada. Komitmennya terhadap NKRI dan keterbukaan terhadap masyarakat menjadi modal penting untuk menjalankan tugasnya sebagai raja keraton di abad ke-21.


Baca juga berita lainnya disini: Aturan Baru Rujukan BPJS: Layanan Lebih Cepat, Pasien Tak Dibuat Repot – Suara Kabar Media Aturan Baru Rujukan BPJS: Layanan Lebih Cepat, Pasien Tak Dibuat Repot

Baca juga profil lengkap Gusti Purbaya disini: Profil dan Pendidikan Gusti Purbaya, Kukuhkan Diri sebagai Raja Baru Keraton Solo di Usia 22 Tahun