JAKARTA – Dinamika kontradiktif terjadi di pasar keuangan nasional pada penutupan perdagangan Senin sore (19/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau bergerak di zona hijau dan berhasil menguat, namun di sisi lain, nilai tukar Rupiah justru mengalami tekanan dan melemah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi ini menarik perhatian para pelaku pasar di Jakarta, mengingat biasanya pergerakan saham dan mata uang cenderung berjalan beriringan sesuai dengan sentimen ekonomi domestik.
IHSG Melaju Berkat Sentimen Domestik
Penguatan IHSG di bursa saham Jakarta hari ini didorong oleh aksi beli bersih investor pada sektor-sektor strategis, seperti perbankan dan infrastruktur. Para investor tampaknya merespons positif laporan kinerja emiten tahunan yang mulai dirilis, menunjukkan fundamental perusahaan yang tetap kokoh di awal tahun 2026.
Selain itu, ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap stabil menjadi motor penggerak indeks di Jakarta. “Pasar saham kita melihat adanya peluang pertumbuhan jangka panjang, sehingga meskipun ada tekanan eksternal, indeks masih mampu bertahan dan menguat,” ungkap salah satu analis pasar modal.
Rupiah Melemah Tertekan Sentimen Global
Berbeda dengan IHSG, nilai tukar Rupiah di pasar spot Jakarta justru tergelincir. Pelemahan ini dipicu oleh faktor eksternal yang cukup dominan, terutama penguatan indeks Dolar AS (Greenback). Berikut adalah beberapa alasan utamanya:
-
Kebijakan Bank Sentral AS: Adanya sinyal bahwa suku bunga di Amerika Serikat akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer) membuat aliran modal kembali ke aset-aset berisiko rendah dalam mata uang Dolar.
-
Permintaan Dolar Meningkat: Meningkatnya kebutuhan korporasi di Jakarta akan valuta asing untuk keperluan impor dan pembayaran utang luar negeri di awal kuartal.
-
Geopolitik Dunia: Ketidakpastian global yang masih membayangi membuat investor cenderung mencari aman dengan memegang Dolar AS.
Proyeksi Pasar Kedepannya
Para pengamat ekonomi di Jakarta memprediksi bahwa volatilitas ini masih akan berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Meskipun IHSG memiliki daya tahan yang baik, peleman Rupiah yang berkelanjutan perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada kenaikan biaya impor dan potensi inflasi di tingkat konsumen.
Masyarakat dan pelaku usaha, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya, dihimbau untuk terus memantau pergerakan nilai tukar secara berkala agar dapat melakukan strategi lindung nilai (hedging) yang tepat terhadap biaya operasional bisnis mereka.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/























