Jakarta – Menjelang Hari Raya Idul Adha, banyak masyarakat menyimpan stok daging kurban di dalam freezer agar lebih awet dan dapat diolah kapan saja. Namun, masih banyak orang yang melakukan kesalahan saat mencairkan daging beku sebelum dimasak. Padahal, proses pencairan atau thawing yang tidak tepat dapat memengaruhi kualitas daging hingga meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri berbahaya.
Menurut berbagai sumber keamanan pangan, daging yang dibiarkan mencair terlalu lama pada suhu ruang berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri seperti Salmonella. Bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala berupa mual, muntah, diare, demam, hingga kram perut. Karena itu, penting untuk memahami cara mencairkan daging yang benar sebelum diolah menjadi berbagai hidangan favorit keluarga.
Salah satu metode yang paling direkomendasikan adalah memindahkan daging dari freezer ke bagian chiller atau lemari pendingin bersuhu sekitar 0 hingga 4 derajat Celsius. Cara ini memang membutuhkan waktu lebih lama, biasanya beberapa jam hingga semalaman tergantung ukuran daging. Meski demikian, metode ini dinilai paling aman karena mampu menjaga suhu daging tetap stabil sehingga risiko kontaminasi bakteri lebih rendah.
Bagi yang membutuhkan cara lebih cepat, metode perendaman menggunakan air dingin bisa menjadi pilihan. Daging harus terlebih dahulu dimasukkan ke dalam plastik kedap udara agar tidak terkena air secara langsung. Setelah itu, rendam dalam wadah berisi air dingin dan ganti air setiap 20 hingga 30 menit untuk menjaga suhu tetap aman. Metode ini cukup efektif untuk mencairkan daging dalam waktu relatif singkat tanpa merusak teksturnya.
Selain itu, penggunaan microwave dengan fitur defrost juga dapat membantu mempercepat proses pencairan. Namun, setelah daging dicairkan menggunakan microwave, daging sebaiknya langsung dimasak. Hal ini karena sebagian area daging mungkin mulai mengalami proses pemanasan yang dapat memicu pertumbuhan mikroorganisme apabila dibiarkan terlalu lama.
Para ahli juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari penggunaan air panas saat mencairkan daging. Perubahan suhu yang terlalu ekstrem dapat membuat bagian luar daging lebih cepat hangat sementara bagian dalamnya masih membeku. Kondisi tersebut justru menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang. Selain itu, kualitas tekstur dan cita rasa daging juga bisa menurun setelah proses pencairan yang tidak tepat.
Hal penting lainnya adalah menghindari pembekuan ulang terhadap daging yang sudah dicairkan. Proses beku-cair yang berulang dapat merusak struktur jaringan daging, mengurangi kualitas rasa, serta meningkatkan risiko kontaminasi. Karena itu, disarankan untuk menyimpan daging dalam porsi kecil sesuai kebutuhan memasak sehingga lebih mudah dicairkan dan langsung habis diolah.
Dengan menerapkan metode pencairan yang benar, masyarakat tidak hanya dapat menjaga kualitas daging kurban tetap segar, tetapi juga memastikan makanan yang disajikan lebih aman untuk dikonsumsi keluarga. Terlebih saat momen Idul Adha, pengolahan daging yang higienis menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan bersama.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























