suasana-duka-menyelimuti-keluarga-saat-seluruh-korban-kebakaran-kantor-terra-drone-di-jakarta-pusat-jakpus-telah-diserahkan-di-1765370324009_169 (1)
Kesaksian Mencekam Sekuriti Terobos Asap Hitam di Terra Drone: 'Suara Minta Tolong Terdengar, Tapi Kami Tak Bisa Bernapas'

JAKARTA PUSAT – Tragedi kebakaran yang menewaskan 22 orang di Gedung Terra Drone, Kemayoran, menyisakan trauma mendalam bagi para saksi mata, terutama petugas keamanan (sekuriti) yang menjadi garda terdepan saat api pertama kali mengamuk.

Di tengah kepanikan massal pada Selasa (9/12/2025), para petugas keamanan ini bertaruh nyawa. Mereka tidak lari menyelamatkan diri sendiri, melainkan mencoba merangsek masuk ke dalam gedung yang sudah berubah menjadi “kamar gas” beracun demi menolong rekan-rekan mereka.

“Gelap Gulita, Jarak Pandang Nol”

Salah seorang petugas sekuriti yang selamat menceritakan detik-detik awal petaka tersebut. Menurutnya, bukan api yang menjadi musuh utama saat itu, melainkan asap hitam pekat yang muncul akibat pembakaran bahan kimia baterai litium.

“Baru beberapa menit ledakan, asap itu langsung naik cepat sekali. Lorong tangga darurat sudah gelap gulita. Jarak pandang nol, kami pakai senter pun tidak tembus,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Meski sesak napas mulai menyerang, ia dan rekan-rekannya berusaha naik ke lantai atas. Mereka mendengar teriakan histeris karyawan yang terjebak dan memukul-mukul kaca jendela dari dalam.

Pecahkan Kaca Demi Oksigen

Menyadari akses tangga darurat sudah tertutup asap, inisiatif cepat diambil. Petugas keamanan dari luar gedung berusaha melempari dan memecahkan kaca-kaca jendela menggunakan batu dan alat seadanya.

“Tujuannya biar asap keluar dan mereka (korban) dapat oksigen. Kami teriak ‘Pecahkan kaca! Pecahkan kaca!’, tapi suara di dalam makin lama makin pelan,” tuturnya mengenang momen menyayat hati tersebut.

Upaya mereka berhasil menyelamatkan beberapa karyawan yang nekat melompat atau menyeberang ke ruko sebelah. Namun, keterbatasan alat pelindung diri membuat para sekuriti ini akhirnya mundur karena mulai keracunan asap, sebelum petugas Damkar dengan peralatan lengkap tiba di lokasi.

Penyesalan yang Membekas

Meskipun telah berjuang sekuat tenaga, rasa penyesalan tetap menghantui. Para petugas keamanan mengaku terpukul karena tidak bisa menyelamatkan semua orang, terutama mereka yang berada di lantai 4 dan 5 yang menjadi titik kumpul korban meninggal terbanyak.

“Rasanya sakit sekali mendengar mereka minta tolong tapi tangan kami tidak sampai,” pungkasnya.

Kisah heroik para sekuriti ini menjadi bukti betapa mematikannya kebakaran yang dipicu oleh material berbahaya jika tidak dibarengi dengan sistem proteksi gedung yang memadai.


Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/