AFP__20260303__99QZ6TW__v3__HighRes__TopshotIranUsIsraelWar-1772579422
Perang Baru Dimulai, Amerika Serikat Sudah Kehilangan Aset Militer hingga Rp33 Triliun

Jakarta – Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran mulai menunjukkan dampak besar, bahkan dalam waktu yang sangat singkat. Dalam empat hari pertama operasi militer yang dimulai pada akhir Februari 2026, Amerika Serikat dilaporkan telah mengalami kerugian peralatan militer senilai hampir US$2 miliar atau sekitar Rp33 triliun.

Kerugian tersebut sebagian besar disebabkan oleh serangan balasan Iran terhadap berbagai fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Data yang dihimpun dari berbagai laporan intelijen sumber terbuka menunjukkan sejumlah aset strategis militer AS mengalami kerusakan hingga kehancuran total.

Salah satu kerugian terbesar berasal dari hancurnya sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 yang ditempatkan di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Radar ini diperkirakan memiliki nilai sekitar US$1,1 miliar dan rusak akibat serangan rudal yang diluncurkan Iran pada awal konflik. Pemerintah Qatar bahkan mengonfirmasi bahwa fasilitas tersebut memang terdampak serangan.

Selain radar strategis tersebut, kerugian lain datang dari tiga unit pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara Amerika Serikat. Ketiga jet tempur ini dilaporkan hancur dalam insiden salah sasaran oleh sistem pertahanan udara Kuwait. Meski seluruh awak pesawat berhasil selamat, nilai kerugian dari kehancuran pesawat tempur tersebut diperkirakan mencapai US$282 juta.

Serangan Iran juga dilaporkan menargetkan markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain. Dalam serangan tersebut, dua terminal komunikasi satelit serta sejumlah bangunan pendukung militer mengalami kerusakan serius. Nilai kerugian dari fasilitas komunikasi tersebut diperkirakan mencapai puluhan juta dolar.

Tak hanya itu, Iran juga mengklaim berhasil menghancurkan komponen radar dari sistem pertahanan rudal THAAD milik Amerika Serikat yang ditempatkan di Uni Emirat Arab. Berdasarkan citra satelit dan analisis intelijen terbuka, komponen radar tersebut diperkirakan bernilai sekitar US$500 juta.

Sejak konflik dimulai, Iran dilaporkan telah menargetkan sedikitnya tujuh fasilitas militer Amerika Serikat yang tersebar di Timur Tengah, termasuk di Qatar, Bahrain, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab. Serangan tersebut dilakukan menggunakan kombinasi rudal balistik, drone tempur, dan sistem persenjataan jarak jauh lainnya.

Konflik ini bermula ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target strategis di Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian memicu eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Serangan tersebut segera dibalas oleh Iran dengan menargetkan instalasi militer Amerika di berbagai negara sekutu di kawasan tersebut.

Selain dampak militer, konflik ini juga mulai memengaruhi kondisi ekonomi global. Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia, terutama karena jalur strategis seperti Selat Hormuz menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak global.

Para analis memperingatkan bahwa jika konflik terus berlanjut dalam jangka panjang, biaya perang bagi Amerika Serikat diperkirakan akan meningkat secara signifikan. Selain kerugian peralatan militer, pengeluaran logistik, operasi militer, serta mobilisasi pasukan berpotensi menambah beban anggaran pertahanan Washington dalam skala yang jauh lebih besar.

Situasi ini menunjukkan bahwa bahkan pada tahap awal konflik, perang modern dapat menimbulkan kerugian finansial yang sangat besar dalam waktu singkat.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/