thailand-cambodia-1765197269717_169
Perang Thailand-Kamboja Makin Mencekam: 10 Tewas, 140 Ribu Warga Mengungsi

BANGKOK/PHNOM PENH – Konflik bersenjata antara dua negara tetangga di Asia Tenggara, Thailand dan Kamboja, kembali meletus dan mencapai titik didih tertinggi dalam satu dekade terakhir. Situasi di perbatasan kini dilaporkan semakin “ngeri” dengan jatuhnya korban jiwa dan gelombang pengungsian massal.

Laporan terbaru pada Rabu (10/12/2025) menyebutkan bahwa baku tembak artileri dan serangan udara telah menyebabkan sedikitnya 10 orang tewas dan memaksa lebih dari 140.000 warga sipil mengungsi dari rumah mereka.

Gencatan Senjata Runtuh, Jet Tempur Mengudara

Pertempuran sengit ini dipicu oleh serangkaian insiden di wilayah sengketa dekat kuil kuno Preah Vihear. Gencatan senjata yang sebelumnya disepakati runtuh total setelah kedua belah pihak saling tuduh melakukan provokasi.

Pihak Angkatan Laut Thailand mengklaim Kamboja menggunakan drone untuk memprovokasi dan menyerang pos militer mereka. Sebagai balasan, Thailand melancarkan operasi militer skala besar, termasuk pengerahan jet tempur dan tank ke lima provinsi perbatasan yang terdampak.

Di sisi lain, mantan Perdana Menteri Kamboja yang juga Ketua Senat, Hun Sen, membantah negaranya memulai agresi.

“Kami tidak membalas selama dua hari. Tapi setelah serangan udara dan rentetan tembakan tank dari Thailand, kami terpaksa bertahan dan membalas,” tegas Hun Sen dikutip dari AFP.

Krisis Pengungsi Terbesar

Dampak kemanusiaan dari perang ini sangat memilukan. Di provinsi Surin, Thailand, dan Oddar Meanchey, Kamboja, ribuan keluarga harus tidur di penampungan sementara, kuil-kuil, dan sekolah yang jauh dari zona merah.

“Kapan ini akan berhenti? Saya ingin ini segera berakhir,” ujar Sutida Pusa (30), warga perbatasan Thailand yang kini hidup dalam ketakutan.

Bagi warga Kamboja seperti Poan Hay, perang ini membuka luka lama. “Ini sudah keempat kalinya saya harus melarikan diri karena perang. Suara jet tempur di atas rumah membuat kami gemetar,” ungkapnya.

Dunia Internasional Desak Tahan Diri

Eskalasi ini memancing reaksi keras dunia internasional. Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negerinya mendesak kedua belah pihak untuk segera menghentikan permusuhan dan melindungi warga sipil.

Sementara itu, ASEAN di bawah keketuaan Malaysia dikabarkan tengah berupaya keras melakukan mediasi darurat agar konflik ini tidak meluas menjadi perang terbuka yang dapat mengguncang stabilitas kawasan Asia Tenggara.


Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/