Jakarta – Seorang siswi berusia 14 tahun di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China, tewas secara tragis di depan rumahnya saat dia bersiap memasuki gang pulang sekolah. Pelakunya adalah teman sekelas laki-laki yang berusia juga sekitar 14 tahun, yang dilaporkan telah membuntuti korban selama beberapa hari sebelum akhirnya menyerang secara brutal dengan lebih dari 20 tusukan.
Menurut keterangan awal dari pihak kepolisian, peristiwa terjadi pada sore hari ketika korban baru tiba di rumah mertuanya, yang tinggal di kompleks perumahan di distrik Longhua. Pelaku, berinisial Zhong, diduga memiliki motif cemburu atau dendam yang belum sepenuhnya diklarifikasi, namun polisi mencatat adanya riwayat hubungan sekolah dan transportasi bersama korban—sejak tiga tahun sebelumnya korban telah menjemput pelaku dan mengantarkannya ke sekolah.
Korban ditemukan dalam kondisi kritis di depan rumahnya. Warga yang mendengar keributan melaporkan suara jeritan dan kemudian menemukan remaja tersebut terkapar bersimbah darah. Paramedis yang datang ke lokasi kemudian menyatakan korban tidak tertolong dan meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Polisi segera mengamankan daerah sekitar dan menangkap pelaku setelah usaha pelarian yang tak lama.
Pihak berwenang segera membuka penyelidikan mendalam, termasuk pemeriksaan latar belakang pelaku, kondisi psikologisnya, serta riwayat interaksi dengan korban. Polisi juga menyita barang bukti berupa pakaian korban yang penuh darah dan pisau kecil yang dipakai pelaku—menunjukkan bahwa pembunuhan direncanakan di luar sela-sekolah, bukan sekadar insiden spontan.
Kasus ini memicu keprihatinan luas di masyarakat setempat karena bukan hanya soal kriminalitas, tetapi juga soal keselamatan anak-anak sekolah dan masalah yang berkembang dalam lingkungan pendidikan. Psikolog sekolah menyebut bahwa fenomena “cemburu muda” atau konflik antar pelajar yang tak terselesaikan bisa memunculkan tindakan ekstrem, terlebih bila diiringi dengan kesiapan alat (seperti pisau) dan ruang yang tak diawasi dengan baik.
Komunitas orang tua di Shenzhen mulai menggaungkan kampanye “kembali ke rumah dengan selamat”—mengajak siswa untuk tidak langsung menuju rumah setelah sekolah tanpa didampingi atau dalam kondisi terang. Mereka juga mendesak pihak sekolah meningkatkan pengawasan saat siswa pulang-pergi, termasuk memperketat rute, menyediakan petugas pengantar, dan memberi pendidikan emosional bagi pelajar tentang konflik interpersonal.
Insiden ini juga memperlihatkan titik lemah sistem sekuritas sekolah dan lingkungan pemukiman di kota-kota besar di China. Meskipun sekolah telah menerapkan sistem kartu akses dan kamera pengawas, koordinasi antara pengajaran, keamanan sekolah, dan keamanan lingkungan sekitar masih dianggap belum optimal. Warga setempat menuntut agar pihak kelurahan dan sekolah bekerja sama untuk memperkuat patroli malam dan mendesain jalur antar-rumah yang terang dan aman bagi pelajar.
Sementara itu, pihak polisi Shenzhen telah menetapkan pelaku sebagai tersangka pembunuhan berencana dan mengajukan permohonan tahanan reman. Orang tua korban sedang dalam proses memberikan keterangan, dan sekolah korban menyatakan akan membantu keluarga serta mengevaluasi pengamanan sekolah dan rute pulang siswa.
Bagi masyarakat umum, kasus ini menjadi pengingat bahwa meskipun aksi kekerasan terhadap remaja masih relatif jarang, dampaknya sangat besar dan traumatis. Peningkatan kesadaran akan perhatian terhadap hubungan antar-pelajar, komunikasi yang terbuka antara siswa, orang tua, dan guru, dan sistem pengawasan yang baik akan menjadi kunci mencegah tragedi serupa.
Baca juga berita lainnya disini: Suara Kabar Media – Suara Kabar Media
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























