antarafoto-sertijab-mendag-150622-wpa-2
Zulhas Kritik Proyek Waste to Energy: Hanya Mampu Tuntaskan 20 Persen Masalah Sampah di Indonesia, Apa Solusinya?

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pangan yang juga tokoh kunci dalam kebijakan ekonomi nasional, Zulkifli Hasan (Zulhas), melontarkan kritik tajam terhadap ketergantungan pada proyek Waste to Energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi. Menurutnya, meski teknologi ini kerap digadang-gadang sebagai solusi mutakhir, pada kenyataannya proyek WTE diprediksi hanya mampu menyelesaikan sekitar 20 persen dari total volume sampah yang ada di Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan Zulhas dalam sebuah diskusi mengenai keberlanjutan lingkungan dan ekonomi hijau di Jakarta, Kamis (26/2/2026). Ia menekankan bahwa pemerintah dan sektor swasta tidak boleh terfokus hanya pada satu jenis teknologi yang berbiaya tinggi namun memiliki jangkauan penyelesaian yang terbatas.

Indonesia saat ini menghadapi darurat sampah dengan jutaan ton limbah yang dihasilkan setiap tahunnya. Proyek WTE, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), memang mampu membakar sampah dalam jumlah besar untuk menghasilkan listrik. Namun, Zulhas menggarisbawahi adanya celah besar yang belum tertangani.

“WTE itu bagus, tapi jangan dianggap sebagai peluru perak. Berdasarkan data dan evaluasi, proyek ini hanya mampu menyerap sekitar 20 persen dari total populasi sampah kita. Lantas, bagaimana dengan 80 persen sisanya?” ujar Zulhas di hadapan para pemangku kepentingan.

Salah satu alasan mengapa WTE tidak bisa menjadi solusi tunggal adalah tingginya biaya investasi dan operasional. Selain itu, karakteristik sampah di Indonesia yang didominasi oleh sampah organik basah seringkali menyulitkan proses pembakaran yang efisien pada mesin-mesin WTE. Hal ini menyebabkan nilai kalor yang dihasilkan tidak maksimal jika tidak melalui proses pemilahan yang ketat sejak dari hulu.

Zulhas mendorong agar fokus pengolahan sampah dialihkan ke strategi yang lebih komprehensif. Menurutnya, penyelesaian masalah sampah harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat dan penguatan ekonomi sirkular.

Pemerintah kini mulai melirik integrasi berbagai metode pengolahan sampah selain WTE. Fokus utamanya adalah pengurangan sampah dari sumbernya, peningkatan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF), serta optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di tingkat daerah.

“Kita butuh kombinasi. Ada WTE, ada RDF untuk industri semen, ada kompos untuk pertanian, dan yang terpenting adalah industri daur ulang. Jika kita hanya mengandalkan WTE, gunungan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) tidak akan pernah benar-benar hilang,” tegas Menko Zulhas.

Kritik yang disampaikan Zulhas ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk tidak sekadar mengejar proyek bergengsi tanpa menghitung efektivitas jangka panjang. Diperlukan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga untuk menciptakan ekosistem pengolahan sampah yang mandiri secara ekonomi dan ramah lingkungan.

Dengan target Indonesia Bersih Sampah 2025-2030, evaluasi terhadap proyek WTE ini diharapkan dapat melahirkan kebijakan yang lebih taktis. Tantangan 80 persen sisa sampah yang disebut Zulhas kini menjadi pekerjaan rumah besar yang memerlukan inovasi teknologi sederhana namun berdampak masif di tingkat akar rumput.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/