Kudus, Jawa Tengah — Suasana di SMAN 2 Kudus berubah menjadi darurat kesehatan menyusul dugaan keracunan massal yang terjadi setelah ratusan siswa menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan pada Rabu (28/1). Gejala yang muncul berupa mual, diare, pusing, dan lemas membuat para siswa harus dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Kota Kudus untuk mendapatkan perawatan medis.
Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, jumlah siswa yang terdampak kejadian ini terus bertambah. Hingga Kamis (29/1), tercatat 118 siswa SMAN 2 Kudus menjalani perawatan di tujuh rumah sakit berbeda, termasuk RSUD Loekmono Hadi, RS Mardi Rahayu, dan RS Sarkies Aisyiyah.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Mustiko Wibowo, menyampaikan bahwa sebagian besar siswa mengalami gejala setelah menyantap menu MBG yang diberi kepada sekolah sekitar pukul 11.15 WIB hari Rabu. “Awalnya keluhan muncul dari para guru, lalu berlanjut ke siswa yang merasa sakit perut, mual, hingga diare,” ujar Mustiko.
Sebelumnya sekolah melaporkan data awal bahwa 109 siswa dilarikan ke rumah sakit usai santap MBG, sementara jumlah total korban diperkirakan lebih besar karena banyak siswa yang memilih menjalani perawatan di rumah atau mengalami gejala ringan.
Diduga Penyebab Keracunan: Ayam Suwir Berbau
Hasil awal investigasi tim kesehatan menduga bahwa pemicu keracunan berasal dari salah satu menu MBG — yakni ayam suwir yang sudah berbau tidak sedap saat diterima di sekolah. Tim telah mengambil sampel makanan untuk diuji lebih lanjut di laboratorium guna memastikan penyebab pastinya.
Menu tersebut terdiri dari nasi, ayam suwir kuah soto, tempe goreng, tauge, dan buah kelengkeng yang dibagikan sebagai bagian dari makanan untuk pelajar SMA. Dugaan bahwa ayam suwir dalam kondisi kurang baik menarik perhatian publik dan memicu kekhawatiran soal pengawasan kualitas makanan MBG.
Respons Pemerintah Daerah
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, langsung meninjau lokasi kejadian dan berkoordinasi dengan Tim TNI/Polri serta Dinas Kesehatan setempat untuk memastikan semua korban mendapat penanganan cepat. Sam’ani menegaskan bahwa langkah sigap diambil untuk mencegah dampak lebih luas dari dugaan keracunan ini.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, memastikan bahwa pemerintah provinsi akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pelaksanaan program MBG di Kudus. Pemeriksaan meliputi proses pengolahan, distribusi makanan, hingga standar sanitasi di dapur penyedia MBG.
Peran Penyedia MBG & Tanggung Jawab
Penyedia MBG dari SPPG Purwosari Kudus telah menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut dan berjanji siap bertanggung jawab, termasuk menggantikan biaya pengobatan siswa yang mengalami dampak keracunan. Mereka juga akan mengevaluasi dan memperbaiki proses produksi agar kejadian serupa tidak terulang.
Kekhawatiran Orang Tua dan Komunitas
Kejadian ini memunculkan kekhawatiran di kalangan orang tua murid dan publik umum, terutama terkait standar keamanan makanan dalam program yang dijalankan secara nasional. Banyak pihak mendesak agar ada audit independen serta pengetatan pengawasan terhadap vendor dan penyedia layanan makanan pelajar.
Insiden yang menimpa ratusan siswa SMAN 2 Kudus ini menjadi sorotan terkait pelaksanaan program makan bergizi gratis. Dengan adanya evaluasi dari pemerintah provinsi dan komitmen dari penyedia MBG, diharapkan langkah perbaikan dapat segera dilakukan demi melindungi kesehatan pelajar dan memastikan keamanan makanan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























