Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil tindakan tegas terhadap seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah videonya yang dianggap mengejek korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial.
Pegawai tersebut diketahui bernama Gerardus Permanaditya dan bekerja sebagai pengawas keuangan di SPPG Dlingo. Video yang dibuatnya menjadi perhatian setelah menampilkan dirinya sedang menyantap ayam katsu sambil melontarkan candaan mengenai hilangnya sebagian ingatan. Pernyataan tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi seorang siswi korban keracunan MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Dalam video tersebut, Gerardus terlihat sedang makan dan kemudian mengatakan bahwa ingatannya hilang 70 persen. Video itu menyebar di media sosial dan menuai kritik karena dianggap tidak sensitif terhadap korban yang sebelumnya diberitakan mengalami gangguan ingatan setelah menjalani perawatan akibat dugaan keracunan MBG.
Koordinator Regional BGN Daerah Istimewa Yogyakarta, Wirandita Gagat Widyatmoko, membenarkan bahwa pria dalam video tersebut merupakan pegawai SPPG di Dlingo, Bantul. Pada tahap awal, pihak BGN memberikan teguran kepada SPPG dan pegawai yang bersangkutan.
Kasus tersebut kemudian mendapat perhatian lebih luas setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut menyoroti video tersebut. Gibran menyayangkan pernyataan pegawai SPPG itu dan mengingatkan pentingnya menjaga ruang publik agar tetap aman bagi masyarakat, khususnya anak-anak yang menjadi korban.
Menurut Gibran, anak-anak yang mengalami persoalan kesehatan seharusnya mendapatkan dukungan, bukan menjadi sasaran ejekan atau perundungan. Ia juga menyinggung kondisi dua siswi asal Kabupaten Karo yang sebelumnya mendapatkan perawatan setelah mengalami masalah kesehatan.
Setelah kasus tersebut ditangani, BGN DIY memastikan pegawai yang bersangkutan diberhentikan. Keputusan itu disampaikan pada Senin, 21 September 2026.
Wirandita mengatakan tindakan tersebut diambil setelah proses penanganan dilakukan sesuai ketentuan. Ia juga menegaskan bahwa kejadian tersebut harus menjadi pembelajaran bagi seluruh jajaran yang terlibat dalam program MBG.
Menurut BGN, bekerja dalam program pemenuhan gizi nasional bukan hanya membutuhkan kemampuan teknis. Pegawai juga dituntut memiliki etika, empati, sensitivitas, serta tanggung jawab dalam berkomunikasi, termasuk ketika menggunakan media sosial.
Kasus ini muncul ketika perhatian publik terhadap kondisi korban keracunan MBG di Karo masih cukup besar. Salah satu siswi, Febiona Purba, sebelumnya diberitakan mengalami gangguan ingatan setelah menjalani perawatan. Keluarganya menyampaikan bahwa korban sempat tidak mengenali sejumlah anggota keluarga dan mengalami kejang.
Namun, kondisi medis korban tetap perlu dilihat berdasarkan pemeriksaan dan penanganan tenaga kesehatan. Sejumlah pihak sebelumnya meminta agar korban mendapatkan pemeriksaan, pengobatan, serta rehabilitasi secara menyeluruh.
Kasus pegawai SPPG di Bantul tersebut pada akhirnya kembali memunculkan pembahasan mengenai pentingnya etika komunikasi bagi para pelaksana program MBG. Terlebih, para pegawai SPPG berhadapan langsung dengan program yang menyangkut kebutuhan gizi dan kesehatan anak-anak sekolah.
BGN berharap pemberhentian tersebut menjadi peringatan bagi seluruh personel agar lebih berhati-hati dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Kritik terhadap suatu persoalan tetap dapat disampaikan, tetapi harus mempertimbangkan kondisi dan perasaan pihak yang terdampak.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/























