JAKARTA – Selama satu dekade terakhir, nama Ridwan Kamil (RK) seolah menjadi blueprint kesuksesan seorang politisi modern di Indonesia. Dengan gaya komunikasi yang santai, visual yang estetik, dan interaksi jenaka di media sosial, RK berhasil membangun “Kekaisaran Digital”-nya sendiri.
Namun, sebuah analisis mendalam yang diterbitkan Kompas pada Jumat (26/12/2025) menyoroti fenomena baru yang mengejutkan: Retaknya Pesona Politik Pencitraan.
Publik, yang dulunya terbuai dengan konten-konten reels ciamik dan caption lucu, kini mulai menunjukkan tanda-tanda “kelelahan” (voter fatigue).
Ketika “Gimmick” Tak Lagi Mempan
Artikel tersebut menggarisbawahi bahwa di tahun 2025, tantangan riil yang dihadapi masyarakat (seperti lapangan kerja, kemacetan akut, dan biaya hidup) menuntut solusi teknokratis yang nyata, bukan sekadar respons viral di kolom komentar.
Gaya RK yang kerap mengandalkan “politik simbolik”—seperti meresmikan desain alun-alun atau membuat konten parodi—kini justru menjadi bumerang. Netizen yang semakin kritis, terutama Gen Z dan Milenial, mulai mempertanyakan: “Di balik konten bagus ini, apa dampak nyatanya buat masalah hidup gue?”
Jebakan “Personal Branding” Berlebihan
Dalam kacamata komunikasi politik, RK dinilai terjebak dalam personal branding yang ia bangun sendiri. Ketika realitas di lapangan tidak seindah feed Instagram, terjadi disonansi (ketimpangan) kognitif di benak publik.
Kritik-kritik pedas yang belakangan muncul di media sosial—terkait isu lingkungan di Jawa Barat atau tata kota—yang dijawab dengan gaya defensif atau candaan, justru memperlebar retakan tersebut. Publik kini mendambakan pemimpin yang siap dikritik dan berbicara data, bukan pemimpin yang sibuk memoles citra.
Sinyal Bahaya bagi Politisi “Selebgram”
Fenomena “retaknya” pesona RK ini menjadi sinyal peringatan keras ( warning) bagi seluruh politisi di Indonesia yang hanya mengandalkan popularitas digital. Era di mana “konten adalah raja” tampaknya mulai bergeser.
Kini, Substansi adalah Raja. Pemilih rasional di tahun 2025 tidak lagi bisa dibeli dengan gimmick visual semata, melainkan menuntut track record kebijakan yang berdampak langsung pada periuk nasi mereka.
Jika RK dan politisi sejenis tidak segera melakukan “Re-branding” menuju arah yang lebih substantif dan serius, bukan tidak mungkin panggung politik mereka akan runtuh tergerus oleh tuntutan zaman.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update Bekasi lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/

























