WASHINGTON D.C. – Miliarder nyentrik Elon Musk kembali menunjukkan gaya bisnisnya yang disruptif. Kali ini, sektor penerbangan global dibuat guncang setelah Musk secara terbuka menyatakan minatnya untuk membeli sebuah maskapai penerbangan besar. Pengumuman ini muncul sesaat setelah Musk terlibat perselisihan sengit di media sosial dengan CEO maskapai tersebut pada Rabu (21/1/2026).
Pola ini mengingatkan publik pada langkah Musk saat mengakuisisi Twitter (kini X), di mana ketertarikannya bermula dari ketidakpuasan terhadap kebijakan platform tersebut.
Kronologi Perselisihan di Media Sosial
Ketegangan bermula ketika CEO maskapai terkait memberikan kritik terbuka terhadap salah satu kebijakan perusahaan Musk. Menanggapi kritik tersebut, Musk tidak hanya membalas dengan kata-kata tajam, tetapi juga melontarkan ancaman akuisisi yang kini menjadi kenyataan dalam radar bisnis global.

Beberapa poin penting dalam manuver ini meliputi:
-
Gaya Akuisisi “Hostile”: Musk dikenal tidak ragu untuk mengambil alih perusahaan yang dianggapnya tidak berjalan dengan benar atau yang menghalangi visinya.
-
Integrasi Teknologi: Spekulasi berkembang bahwa Musk ingin mengintegrasikan teknologi satelit Starlink miliknya ke dalam seluruh armada maskapai tersebut untuk layanan internet super cepat di udara.
-
Dampak Saham: Pengumuman ini langsung memicu fluktuasi harga saham maskapai terkait, di mana para investor mulai berspekulasi mengenai potensi nilai tawar akuisisi.
Riwayat “Membeli Masalah” ala Elon Musk
Dunia bisnis mencatat bahwa ini bukan pertama kalinya Musk mencoba menyelesaikan “keributan” dengan cara membeli perusahaan lawannya. Tabel berikut menunjukkan beberapa jejak akuisisi dan ekspansi Musk yang bermula dari ketidakpuasan.
Reaksi Industri Penerbangan Global
Langkah Musk ini menuai reaksi beragam dari para pengamat industri. Sebagian menilai kehadiran Musk akan membawa inovasi besar dan efisiensi teknologi di industri penerbangan yang selama ini dianggap kaku. Namun, sebagian lainnya khawatir akan stabilitas manajemen dan masa depan karyawan maskapai di bawah kepemimpinan Musk yang dikenal tidak terduga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak maskapai belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana akuisisi tersebut. Namun, di pusat-pusat bisnis seperti Jakarta dan New York, para analis terus memantau apakah ancaman Musk ini akan berakhir di meja negosiasi atau sekadar gertakan di media sosial.
























