Jakarta – Fenomena ikan sapu-sapu kembali menjadi sorotan publik setelah muncul perbandingan menarik antara kebijakan di Indonesia dan kebiasaan masyarakat di luar negeri. Di Jakarta, ikan yang dikenal sebagai hama sungai ini justru ditumpas secara masif, sementara di wilayah Sungai Amazon, ikan yang sama malah dikonsumsi dan memiliki nilai ekonomi.
Di sejumlah sungai di Jakarta, ikan sapu-sapu dianggap sebagai spesies invasif yang merusak ekosistem. Populasinya berkembang sangat cepat, memakan telur ikan lain, serta mengganggu keseimbangan lingkungan perairan. Pemerintah daerah bahkan beberapa kali menggelar program penangkapan massal untuk menekan populasinya karena dinilai mengancam keberlangsungan ikan lokal dan kualitas sungai.
Keberadaan ikan sapu-sapu di perairan ibu kota juga berkaitan erat dengan masalah pencemaran. Ikan ini dikenal sebagai pemakan dasar (bottom feeder) yang mengonsumsi kotoran dan limbah di sungai. Kondisi sungai yang tercemar membuat ikan ini dianggap tidak layak konsumsi oleh masyarakat karena dikhawatirkan mengandung logam berat dan zat berbahaya. Faktor inilah yang membuat ikan sapu-sapu di Indonesia identik dengan hama, bukan bahan pangan.
Namun situasi berbeda terjadi di kawasan Sungai Amazon, Amerika Selatan. Di sana, ikan yang secara biologis masih satu keluarga dengan ikan sapu-sapu justru dimanfaatkan sebagai sumber protein. Masyarakat setempat mengolahnya menjadi berbagai hidangan tradisional. Perairan Amazon yang relatif lebih bersih membuat ikan tersebut dianggap aman dikonsumsi.
Perbedaan persepsi ini menunjukkan bahwa kualitas lingkungan sangat memengaruhi cara masyarakat memandang suatu spesies. Di wilayah dengan ekosistem air yang sehat, ikan jenis ini bisa menjadi komoditas bernilai. Bahkan, di beberapa tempat, ikan tersebut dijual di pasar lokal sebagai bahan makanan murah dan bergizi.
Ahli lingkungan menjelaskan bahwa sebenarnya ikan sapu-sapu bukanlah ikan beracun. Namun risiko kesehatan muncul ketika ikan hidup di perairan tercemar. Ikan yang hidup di sungai dengan kandungan limbah tinggi berpotensi menyerap logam berat seperti merkuri dan timbal. Jika dikonsumsi terus-menerus, zat tersebut dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia.
Selain faktor kesehatan, keberadaan ikan sapu-sapu di Jakarta juga menimbulkan masalah ekologis. Spesies ini bukan ikan asli Indonesia dan tidak memiliki predator alami yang cukup untuk mengontrol populasinya. Akibatnya, jumlahnya meningkat drastis dan menekan populasi ikan lokal.
Melihat kondisi tersebut, beberapa pakar menyarankan pendekatan yang lebih kreatif. Salah satunya adalah mengolah ikan sapu-sapu menjadi produk non-pangan seperti kerajinan, pakan ternak, atau bahan baku industri. Langkah ini dinilai bisa menjadi solusi untuk mengurangi populasinya sekaligus memberi nilai ekonomi.
Perbandingan antara Jakarta dan Amazon menjadi pelajaran penting tentang hubungan manusia, lingkungan, dan sumber daya alam. Ikan yang dianggap hama di satu tempat bisa menjadi makanan di tempat lain, tergantung pada kondisi ekosistemnya.
Fenomena ini sekaligus mengingatkan bahwa upaya menjaga kebersihan sungai tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka potensi ekonomi baru. Jika kualitas air membaik, bukan tidak mungkin persepsi terhadap ikan sapu-sapu juga akan berubah di masa depan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/
























