menteri-keuangan-menkeu-purbaya-yudhi-sadewa-1768361247554_169
Purbaya Yudhi Sadewa Bela Thomas Djiwandono Masuk BI: "Jangan Lihat Nama, Lihat Kualitas dan Kompetensinya"

JAKARTA – Keputusan strategis terkait pengisian jabatan di level pimpinan Bank Indonesia (BI) memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat ekonomi. Menanggapi berbagai kritik yang muncul terkait masuknya Thomas Djiwandono ke jajaran otoritas moneter, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan pembelaan yang cukup tegas dan “menohok”.

Dalam sebuah kesempatan di Jakarta pada Rabu (21/1/2026), Purbaya meminta para kritikus untuk lebih objektif dalam menilai seseorang berdasarkan rekam jejak dan kapabilitasnya, bukan sekadar melihat latar belakang keluarga.

Menepis Isu Nepotisme dengan Fakta Kompetensi

Purbaya menekankan bahwa Thomas Djiwandono memiliki kualifikasi pendidikan dan pengalaman yang sangat mumpuni di bidang keuangan internasional. Menurutnya, publik seharusnya memberikan kesempatan bagi figur yang memiliki kapasitas intelektual tinggi untuk berkontribusi bagi negara.

Beberapa poin pembelaan yang disampaikan Purbaya meliputi:

  • Pendidikan Global: Latar belakang pendidikan Thomas di universitas ternama luar negeri menjadi modal kuat dalam memahami dinamika ekonomi global.

  • Pengalaman Fiskal: Peran sebelumnya dalam pengelolaan fiskal dianggap memberikan perspektif yang berharga bagi sinkronisasi kebijakan moneter di BI.

  • Standardisasi Ketat: Purbaya mengingatkan bahwa posisi di Bank Indonesia selalu melalui proses seleksi dan uji kelayakan yang sangat ketat di DPR RI.

Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Menkeu Purbaya dan Mentan Amran  Paling Disukai Masyarakat - Jawa Pos

Pentingnya Sinergi Fiskal dan Moneter

Kritik yang datang dari sejumlah ekonom biasanya berfokus pada kekhawatiran akan terganggunya independensi Bank Indonesia. Namun, Purbaya memiliki pandangan berbeda. Ia menilai kehadiran figur yang memahami peta politik ekonomi nasional justru dapat memperkuat komunikasi antara pemerintah (fiskal) dan bank sentral (moneter).

“Sering kali kita terlalu cepat menghakimi karena nama besar di belakangnya. Yang penting adalah hasilnya. Jika dia mampu membawa stabilitas dan inovasi, kenapa harus dipermasalahkan?” ujar Purbaya menanggapi sentimen negatif yang beredar.

Respons Pasar terhadap Transisi Kepemimpinan

Hingga saat ini, kondisi pasar modal dan nilai tukar rupiah terpantau masih stabil menghadapi transisi di jajaran Deputi Gubernur BI. Para investor cenderung lebih melihat pada konsistensi kebijakan dibandingkan figur personal.

Di tahun 2026 ini, tantangan ekonomi seperti pengendalian inflasi dan suku bunga global memerlukan tim yang solid di dalam Bank Indonesia. Purbaya optimistis bahwa keberagaman latar belakang di pimpinan BI akan memberikan warna baru yang positif bagi pengambilan keputusan yang lebih komprehensif.

Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/