Jakarta – Sebuah kapal perang milik Angkatan Laut Iran dilaporkan tenggelam setelah terkena serangan torpedo yang diluncurkan kapal selam Amerika Serikat di perairan Samudra Hindia, dekat wilayah Sri Lanka. Insiden ini menambah eskalasi konflik militer yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
Kapal perang yang tenggelam tersebut diketahui bernama IRIS Dena, sebuah fregat kelas Moudge milik Angkatan Laut Iran. Serangan terjadi pada 4 Maret 2026 sekitar 40 mil laut di selatan kota Galle, Sri Lanka. Kapal tersebut dilaporkan terkena torpedo yang ditembakkan oleh kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat hingga menyebabkan ledakan besar dan akhirnya tenggelam di perairan internasional.
Berdasarkan laporan otoritas Sri Lanka dan sejumlah media internasional, sedikitnya 87 pelaut Iran tewas, sementara 61 lainnya masih dinyatakan hilang setelah kapal tersebut tenggelam. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi 32 awak kapal yang selamat, yang kemudian dibawa ke rumah sakit di wilayah Galle untuk mendapatkan perawatan medis.
Menurut informasi dari Kementerian Pertahanan Amerika Serikat, kapal selam AS menembakkan torpedo berat Mark 48 yang dikenal sebagai salah satu senjata anti-kapal paling mematikan di dunia. Torpedo ini dirancang untuk menghancurkan kapal perang besar dengan menghantam bagian bawah lambung kapal, sehingga menyebabkan kerusakan struktural yang fatal.
Serangan tersebut dikonfirmasi oleh pejabat pertahanan Amerika Serikat sebagai bagian dari operasi militer yang lebih luas dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Iran. Menteri Pertahanan AS menyebut serangan itu sebagai operasi militer yang dilakukan untuk menetralisir ancaman di laut.
Kapal IRIS Dena diketahui sedang berlayar kembali menuju Iran setelah mengikuti latihan militer multinasional MILAN 2026 serta parade armada internasional yang digelar di Visakhapatnam, India. Saat serangan terjadi, kapal tersebut membawa sekitar 180 personel Angkatan Laut Iran di dalamnya.
Setelah menerima sinyal darurat dari kapal yang mengalami ledakan, Angkatan Laut Sri Lanka segera mengerahkan kapal patroli dan pesawat untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi kejadian. Tim penyelamat menemukan sejumlah korban terapung di laut serta puing-puing kapal yang telah tenggelam.
Insiden ini menjadi salah satu peristiwa langka dalam sejarah peperangan modern. Para analis militer menyebutkan bahwa penenggelaman kapal perang oleh kapal selam menggunakan torpedo seperti ini sangat jarang terjadi dalam konflik modern, bahkan disebut sebagai salah satu kasus pertama sejak era Perang Dunia II yang melibatkan kapal selam Amerika Serikat menghancurkan kapal perang musuh secara langsung.
Peristiwa tersebut juga memperluas wilayah konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya lebih banyak terjadi di kawasan Timur Tengah. Serangan yang terjadi di dekat Sri Lanka menunjukkan bahwa ketegangan militer kini telah menjalar hingga wilayah Samudra Hindia.
Para pengamat keamanan internasional memperingatkan bahwa insiden ini berpotensi memperburuk eskalasi konflik di kawasan. Jika kedua negara terus meningkatkan operasi militer di laut maupun udara, situasi keamanan regional bisa semakin tidak stabil dan berisiko memicu konflik yang lebih luas.
Hingga saat ini, operasi pencarian terhadap puluhan awak kapal Iran yang masih hilang terus dilakukan oleh otoritas Sri Lanka dengan dukungan sejumlah negara di kawasan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/























