Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi penurunan tingkat kepuasan publik setelah hasil survei terbaru menunjukkan hanya 32 persen warga AS yang menyetujui kinerjanya sebagai presiden. Angka tersebut menjadi titik terendah dalam survei Reuters/Ipsos yang dilakukan sepanjang masa jabatan Trump, sekaligus memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan biaya hidup.
Survei Reuters/Ipsos yang dilakukan pada 17-20 September 2026 melibatkan 1.277 orang dewasa di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump turun dari 35 persen dalam survei sebelumnya menjadi 32 persen. Sementara itu, tingkat ketidaksetujuan mencapai sekitar dua pertiga responden. Margin of error survei tersebut berada di sekitar tiga poin persentase.
Salah satu persoalan yang paling banyak dikaitkan dengan penurunan dukungan tersebut adalah biaya hidup. Dalam survei yang sama, hanya 17 persen responden yang menyatakan puas dengan cara Trump menangani persoalan biaya hidup. Isu tersebut menjadi perhatian utama masyarakat Amerika menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.
Tekanan ekonomi juga mulai terasa di kalangan pendukung Partai Republik. Persetujuan terhadap kinerja Trump di antara pemilih Republik turun menjadi 73 persen, dibandingkan 82 persen dalam survei Reuters/Ipsos sepekan sebelumnya. Ipsos mencatat penilaian terhadap Trump dalam persoalan ekonomi juga mengalami penurunan. Dukungan dari kalangan Republik terhadap penanganan ekonomi AS turun menjadi 56 persen, sedangkan untuk persoalan biaya hidup hanya 44 persen.
Kondisi tersebut menjadi tantangan karena Trump kembali ke Gedung Putih dengan sejumlah janji ekonomi, termasuk menekan inflasi dan meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat. Reuters mencatat bahwa ketika Trump dilantik kembali pada Januari 2025, tingkat persetujuannya dalam survei Reuters/Ipsos berada di angka 47 persen.
Persoalan harga energi turut menjadi bagian dari tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Kenaikan harga bahan bakar disebut berkaitan dengan perang Iran yang diluncurkan pemerintahan Trump pada Februari 2026. Situasi tersebut membuat persoalan biaya hidup semakin menonjol dalam penilaian publik terhadap pemerintah.
Tren penurunan dukungan sebenarnya sudah terlihat sebelum survei terbaru. Pew Research Center pada Juli 2026 mencatat tingkat persetujuan terhadap Trump berada di 34 persen. Pew juga menemukan penurunan dukungan terutama terjadi di kalangan warga Republik dan independen yang condong ke Republik. Pada Juli, sekitar 69 persen kelompok tersebut masih menyetujui kinerja Trump, turun dari 84 persen pada Februari 2025.
Meski demikian, tingkat kepuasan terhadap seorang presiden sangat dipengaruhi waktu, metode survei, serta isu yang sedang dominan. Survei Harvard CAPS/HarrisX pada Agustus 2026, misalnya, mencatat tingkat persetujuan Trump sebesar 44 persen. Perbedaan hasil menunjukkan bahwa angka approval tidak selalu seragam di antara lembaga survei.
Hasil terbaru Reuters/Ipsos memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi dan biaya hidup kini menjadi tantangan penting bagi pemerintahan Trump. Penurunan dukungan bahkan mulai terlihat di basis pendukung Republik, sehingga perkembangan harga dan kondisi ekonomi masyarakat menjadi faktor yang terus diperhatikan menjelang pemilu sela Amerika Serikat 2026.
Baca juga berita update lainnya disini: https://suarakabarmedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://kabarbaghasasi.com/























